Dalam perkembangan sepakbola dunia yang semakin maju sekarang ini dimana pemikiran manusia yang semakin berkembang khususnya akan peningkatan kualitas sepakbola negerinya, saya pun terlecut untuk memberikan pemikiran dan ikut serta dalam memajukan sepakbola Indonesia yang sangat saya cintai. Hal pertama yang sangat saya cermati adalah KUALITAS. Mengapa kualitas begitu penting sekali? Itu karena segala aspek dalam sepakbola adalah tergantung kepada kualitas. Bila kualitas sepakbola negeri itu buruk maka perkembangan sepakbola negeri itu pun akan jalan di tempat. Kualitas menyangkut berbagai aspek.
Diantaranya :
- Organisasi.
- Kompetisi (Liga).
- Manajemen.
- Pelatih.
- Pemain.
organisasi, dalam hal ini adalah PSSI, induk dimana segala sesuatu yang mengatur persepakbolaan Indonesia direncanakan dan diatur. Maka sangat vital sekali peran PSSI untuk memajukan persepakbolaan Indonesia. Perencanaan (planning) jangka panjang, pengaturan liga, timnas, manajemen klub, pelatih, pemain, diatur sedemikian rupa oleh PSSI dengan tujuan agar menjadi lebih baik dan teratur.
Hal yang kedua dalam kualitas adalah Kompetisi (Liga). Liga Indonesia sudah digulirkan selama 14 tahun dan berbagai format kompetisi sudah dicoba oleh PSSI/BLI. Pertanyaannya apakah Liga itu sudah memberikan kontribusi yang berarti bagi timnas? Apakah sudah ada prestasi yang membanggakan bagi timnas?
Selama kurun waktu 14 tahun digulirkannya LI saya kira tidak ada pengaruhnya bagi timnas, jangankan di tingkat dunia, di tingkat asia tenggara saja kita masih belum apa-apa. PSSI harus menjalankan roda kompetisi dengan baik dan benar dengan acuan peningkatan kualitas dari klub peserta. Buatlah aturan yang akan membuat segala aspek di LI menjadi berkualitas, contohnya saja yang saya setujui adalah kebijakan PSSI yang mengharuskan pelatih di LI harus berlisensikan A juga tentang diharuskannya klub untuk berbadan hukum.
Contoh lain menurut saya adalah PSSI harus mewajibkan semua klub peserta di LI untuk mempunyai team junior secara berkala, misalnya saja suatu klub harus mempunyai team U-16, U-13. tentunya dengan pelatih yang benar benar sudah teruji mungkin saja diwajibkan untuk berlisensi. Bila perlu Fasilitas latihan (training facilities) pun harus benar-benar diatur oleh PSSI. Atmosfir liga yang baik dan berkualitas akan meningkatkan semua elemen yang ada di dalamnya.seperti pemain yang ber skill ciamik dan bermental baja, manajemen yang professional, pelatih yang berkelas, tentunya akan berimbas pula pada timnas Indonesia. Lihat saja Jepang dengan J-League nya. Mereka maju dengan pesat karena mereka serius membenahi kompetisinya dan sadar akan pentingnya arti sebuah kualitas.
Hal ketiga adalah soal manajemen, yang saya tekankan disini adalah manajemen klub. Manajemen ini sangat berkaitan dengan factor kompetisi yang sudah ditekankan di atas. Setiap peserta klub LI harus berbadan hukum agar menjadi professional dan mandiri tidak seperti dulu yang mengandalkan pendapatan daerah khususnya klub-klub eks perserikatan, apa rakyat rela uang mereka dihamburkan untuk membiayai klub daerah itu bernaung, terkecuali bagi orang yang gila bola, banyak juga kan orang orang yang tidak menyukai bola, apalagi kondisi Indonesia sekarang yang semakin buruk, baiknya daripada dihambur-hamburkan untuk membiayai klub mending untuk keperluan lain seperti pendidikan, kemiskinan,dll..
Hal lain yang perlu digaris bawahi ialah unsure yang ada di dalam klub itu sendiri harus diatur sedemikian rupa dengan orientasi demi kemajuan bersama, misalnya saja kewajiban untuk memiliki tim junior secara berkala, dan kualitas pelatih yang teruji, juga ditunjang dengan fasilitas latihan yang benar-benar layak termasuk stadion.
Faktor pendukung yang ke-4 adalah mengenai pelatih. Keahlian (skill) seorang pemain tergantung kepada pelatih selain juga karena factor bakat (talent). Seorang pelatih berperan penting dalam membangun karakter atau pun kemampuan pemain, kita lihat saja Liga Indonesia, tidak bisa dipungkiri lagi sering sekali kita lihat banyak pemain yang melakukan kesalahan dasar seperti passing, dribbling, shooting, controlling, keeping ball, dll.. intinya para pemain Indonesia tidak bisa bermain bola dengan baik dan benar.
Jalan keluarnya adalah kursuskan pelatih Indonesia untuk belajar ilmu kepelatihan ke Negara-negara yang sepakbolanya maju seperti Spanyol, Inggris, Belanda, Brazil, dll.. bisa juga kita datangkan instruktur kepelatihan yang benar-benar bagus dari luar.. mengapa? Karena jika ingin mengambil lisensi kepelatihan tentunya harus dengan instruktur yang benar-benar berkualitas, kalau instrukturnya seperti sekarang sama juga bohong. Perlu perhatian juga masalah pelatih junior. Yang saya kira memang harus benar-benar yang berkualitas.
Ingat, bagus tidaknya suatu pemain bergantung kepada polesan pelatih mereka sejak dari kecil. Ambil saja contoh program pengiriman pemain ke luar negeri oleh PSSI. Hasilnya nol besar! Disebabkan umur mereka sudah 17 ke atas. Umur 17 ke atas tuh sudah telat donk! Kalau mau ketika pemain itu baru menginjak maksimal 14 tahun. Jadi intinya yang pelu dikedepankan adalah para pelatih-pelatih junior klub liga Indonesia.
Ingat Jalal Talebi? Pelatih timnas junior kita yang juga pelatih Iran di piala dunia 1998 yang dipecat PSSI karena memulangkan semua pemain karena dianggap tidak layak semua. Ingat juga omongan Foppe de Haan pelatih timnas junior kita yang diberangkatkan ke Belanda untuk pemusatan latihan, dia mengatakan pemain Indonesia lemah dalam teknik dasar dan organisasi permainan. Apa yang perlu diragukan lagi akan pentingnya peran pelatih bagi kemajuan sepakbola kita?
Terakhir adalah faktor pemain itu sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para pemain Indonesia tidak bisa menjalankan sepenuhnya instruksi yang diinginkan pelatih atau tidak bisa menjalankan strategi dengan baik. Saya perhatikan dari dulu baik di LI ataupun timnas para pemain kita buruk dalam organisasi permainan. Mungkin secara individu memang bagus tapi secara organisasi permainan pemain kita lemah sekali. Entah itu karena faktor pelatih ataupun SDM yang kurang. Karena intelegensi pun memegang peranan penting bagi seorang pemain.
Hal lain adalah pemain kita sering sekali bermain kasar, sradak- sruduk ga karuan. Dalam hal ini saya bisa membedakan mana yang keras dan mana yang kasar, nah pemain kita tuh lebih ke kasar. Terbiasa bermain di LI yang wasitnya tidak tegas dan takut akan pemain, sehingga pemain tidak lagi menghormati sang pengadil lapangan, imbasnya terbawa pula sampai pada tingkat timnas. Padahal jika dipikir lagi itu merugikan sekali, kita bisa kena sanksi, mendapat image yang buruk, merugikan tim dsb. Semua hal yang berdasarkan atas nafsu akan buruk akibatnya. Cobalah kita belajar memakai otak dingin (logika) toh, kalaupun kita terus berusaha dan menjadi yang terbaik kita pasti akan menang.
Kita harus mulai dari sekarang dengan program baru, visi dan misi baru, kita harus lebih maju dan berkembang dari masa – masa sebelumnya supaya kita bisa kembali disegani dan ditakuti bukan hanya di asia tenggara tapi juga di asia, bila perlu di dunia sekalipun! Kibarkan kembali sang saka merah – putih, terbanglah tinggi wahai garuda – garuda bangsa buktikan pada dunia bahwa kita bisa!
Saya khawatir dengan tetangga kita di Asia Tenggara, mereka sudah sedemikian rupa mencanangkan program dengan baik. Contohnya Thailand. Mereka sudah mentargetkan lolos pada Piala Dunia 2014. Tentunya target mereka tidak semata – mata didasari hanya omongan belaka, tapi mereka sudah menyusun program yang terencana dengan baik.
Bahkan mereka sudah mengrimkan pemain-pemain junior mereka ke Eropa. Tidak sembarangan pula, mereka mengirimkan pemain yang sudah diseleksi dengan ketat dan dengan bakat yang luar biasa, usianya pun masih di bawah 15 tahun. FAT (pssi-nya Thailand) menitipkan para pemainnya kepada klub – klub eropa. Mereka pun mendatangkan pelatih yang berkualitas, seperti sekarang yang kita tahu pelatih timnas mereka adalah Peter Reid mantan pelatih Manchester City. Thailand tidak tanggung dalam membenahi sepakbola nya, karena mereka memiliki niat yang serius untuk berprestasi.
Tidak hanya Thailand yang perlu kita khawatirkan, Singapura pun sangat mengancam bagi sepakbola Indonesia. Bedanya dengan Thailand adalah singapura lebih fokus kepada sumber daya pelatih. Sadar mereka Negara kecil yang notabene penduduknya pun sedikit dan tentunya minim pula pemain bolanya. Maka mereka mengambil solusi mengoptimalkan para pelatih mereka. Mereka mengkursuskan pelatih2 mereka bukan hanya lisensi local tapi lisensi FIFA, bahkan lisensi AFC sudah keharusan bagi Liga Singapura.
Terbukti sosialisasinya pun sudah begitu gencar akan sertifikat kepelatihan ini. Mereka mempunyai sekolah khusus atlet termasuk dalm bidang sepakbola, bahkan saya lihat di situsnya mereka membagi team dalam jenjang berbeda mulai dari u-12 dan seterusnya tentunya dengan fasilitas latihan yang lengkap dan pelatih yang bersertifikat “B” AFC didampingi oleh pelatih fisik dan psikologi. Bisa dilihat di situs FAS (football association of Singapore).
Apa lagi yang kita tunggu? Kita punya para pemain berbakat yang belum terasah dan kita punya kawasan yang secara geografis luas. Kita punya segalanya, yang kita butuhkan hanya keseriusan dan niat yang sunguh – sungguh demi majunya persepakbolaan kita! Ambil tindakan dari sekarang sebelum negara di Asia Tenggara lainnya menyalip kita. Program kita bisa lebih bagus dari Thailand dan Singapura. Jika Thailand lebih fokus kepada pemain dan Singapura kepada pelatih, maka kita harus fokus kepada dua2nya.
Kita bisa mulai dari mengirimkan pelatih-pelatih kita yang menjadi instruktur kepelatihan untuk sertifikat nasional ke Negara – Negara yang maju sepakbolanya. Kemudian buatlah pearturan bagi pelatih – pelatih junior di Liga Indonesia agar mengambil sertifikat kepelatihan A Nasional dan AFC bagi para pelatih senior. Dan itu mutlak. Nah setelah itu baru selenggarakan kejuaraan sepakbola U-13 tingkat klub, kita adakan seleksi ketat bagi para pemain yang akan dijaring, tentunya dengan penyeleksian dari pelatih-pelatih berkualitas supaya bisa benar-benar akurat dalam pemilihan bakat-bakat sepakbola Indonesia.
Setelah terjaring lalu langkah selanjutnya adalah mengumpulkan mereka dan cari pelatih yang sudah teruji dan berkelas untuk menangani, terus tempatkan mereka di Negara-negara yang memiliki kompetisi junior. Supaya mereka merasakan atmosfer sepakbola yang maju. Sistem penempatannya yaitu secara rolling misalnya saja 2 tahun di Inggris, 2 tahun berikutnya di Spanyol, kemudian 2 tahun berikutnya lagi di Brazil.itu berguna bagi mereka yang bisa mengenal atmosfer, gaya permainan, cuaca, Negara yang didiami.
Masalah adaptasi saya kira itu menjadi tantangan dan itu menjadi kelebihannya, jika kita bisa melaluinya dengan baik saya yakin sekali maka tim itu akan sangat teruji dan matang dalam hal adaptasi. Jangan bubarkan mereka karena akan mengurangi kekompakan tim yang sudah lama, mereka perlu bersama selama mungkin. Setelah mereka menginjak usia 18 lalu titipkan mereka pada klub – klub di eropa atau amerika selatan. Kita bisa petik hasilnya di kemudian hari. Percayalah.
Dengan segala hormat, bukan maksud saya untuk menggurui tapi saya hanya memberi usul saja. Saya membaca di situs PSSI, perihal program yang dicanangkan ketua umum Nurdin Halid bagi persepakbolaan kita menembus dunia tahun 2020. segala hal yang dibeberkan tentang peningkatan mutu liga, youth development, peran komersialitas, dll.. saya sangat setuju. Tapi saya cermati dan nilai masih ada yang kurang.
Apa manfaatnya membina pemain muda tanpa pelatih yang handal? Tidak bosan-bosannya saya menyoroti pentingnya peran seorang pelatih. PSSI seharusnya memasukan juga peningkatan mutu pelatih dalam programnya. Hal lain adalah youth development yang dicanangkan nurdin halid kurang menyeluruh dari segi usia.coba mulai bina pemain dan programkan dari usia si pemain itu menginjak U-12thn, U-15thn, U-18. kita harus bina pemain dari dasar. Tidak seperti program-program boros tanpa hasil seperti primavera, baretti, U-23 yang dikirim ke belanda, dan yang terbaru Timnas SAD U-16 yang dikirim ke Uruguay. Dari segi usia sudah telat sekali. Cobalah belajar dari pengalaman, saya yakin anda sudah mendengar bahkan terpikirkan akan hal tersebut. Petinggi- petinggi PSSI tentunya adalah orang-orang pintar, tapi mengapa?
Advertisement
Like this:
Be the first to like this post.