Jojothejack’s Blog
Just another WordPress.com weblog

Jan
04
Pernah dengar istilah Sistem Operasi /Operating System (OS) kan ? Yap betul, OS itu untuk bahasa mudahnya adalah suatu program/software yang menjadi “wadah” bagi software2 lainnya dalam sebuah komputer.

Kali ini saya akan mengajak anda untuk mengetahui lebih lanjut masalah OS itu.

Beberapa definisi dari Sistem Operasi :

1. Program yang berfungsi sebagai perantara antara pengguna dengan hardware komputer

2. Sistem Operasi mengalokasikan prosesor, memori, dan perangkat I/O (Input Output) secara teratur dan terkontrol ke berbagai program yang menggunakannya.

Tujuan dibuatnya Sistem Operasi :

1.Mempermudah eksekusi program pengguna dan solusi masalah pengguna

2.Menjadikan penggunaan sistem komputer lebih menyenangkan efisiensi penggunaan hardware

Peranan Sistem Operasi :

- sebagai extended machine
- menyembunyikan detail menyediakan antarmuka/interface bagi user sehingga lebih mudah
digunakan
- sebagai resource manager setiap program akan memperoleh alokasi waktu, ruang, dll.

Kenapa kita belajar Sistem Operasi ?

Mungkin timbul pertanyaan, kenapa kita harus mempelajari sistem operasi tersebut ?

Salah satu jawabannya adalah agar kita bisa memahami model operasi, sehingga kita bisa :

1. mempermudah penggunaan sistem dan memungkinkan penulisan kode program

2. memahami perancangan sistem

Jan
04

Dalam perkembangan sepakbola dunia yang semakin maju sekarang ini dimana pemikiran manusia yang semakin berkembang khususnya akan peningkatan kualitas sepakbola negerinya, saya pun terlecut untuk memberikan pemikiran dan ikut serta dalam memajukan sepakbola Indonesia yang sangat saya cintai. Hal pertama yang sangat saya cermati adalah KUALITAS. Mengapa kualitas begitu penting sekali? Itu karena segala aspek dalam sepakbola adalah tergantung kepada kualitas. Bila kualitas sepakbola negeri itu buruk maka perkembangan sepakbola negeri itu pun akan jalan di tempat. Kualitas menyangkut berbagai aspek.

Diantaranya :
- Organisasi.
- Kompetisi (Liga).
- Manajemen.
- Pelatih.
- Pemain.

Read the rest of this entry »

Jan
04

CONTOH kemunduran peradaban kita sebagai bangsa dapat dilihat pada sepak bola Indonesia. Isinya main pukul, main hantam, menjadikan lapangan sepak bola padang penjagalan.

Sepak bola dengan semangat kekejian itulah yang kita saksikan di lapangan. Pemain memiting pemain lawan. Manajer klub membawa pistol dan melepaskan tembakan ke udara. Penonton yang tidak puas dengan keputusan wasit menganiaya hakim garis dan merusak stadion.Semua yang tidak masuk akal di dunia sportivitas, itulah yang terjadi di dunia sepak bola Indonesia. Bahkan, yang tidak masuk akal itu, juga terjadi pada pengambilan keputusan di luar lapangan sepak bola.
Contohnya, tidak masuk akal, pelatih yang membawa aksi mogok kesebelasannya, malah dipilih menjadi pelatih nasional. Tidak masuk akal, komunitas sepak bola Indonesia bangga dipimpin seorang terpidana, yang sedang meringkuk di penjara. Tidak masuk akal, pemain dan pelatih asing yang dibawa ke negeri ini justru para begundal, yang menjadi pangkal keributan.
Tidak masuk akal, bagi akal yang waras. Mungkin di sini letak persoalan. Dunia sepak bola Indonesia, jangan-jangan tidak pas dilihat dengan akal sehat.
Sepak bola merupakan cabang olahraga yang paling populer di negeri ini. Paling populer, yaitu paling digemari rakyat. Mestinya, inilah pula olahraga yang paling disayangi, dan karena itu dipelihara dengan semangat peradaban yang tinggi.
Akan tetapi, kenyataannya, inilah olahraga paling tidak populer, karena buruknya prestasi dan buruknya kelakuan.
Bahkan, buruknya kelakuan itu dapat ditonton penggemar sepak bola di berbagai belahan dunia. Kerusuhan di Stadion Brawijaya, Kediri, misalnya, disiarkan stasiun televisi olahraga terkemuka ESPN.
Sepak bola mestinya bagian strategis mengharumkan nama bangsa. Sepak bola Afrika, contohnya, menghasilkan pemain kaliber dunia yang mewarnai sepak bola Eropa. Klub elite Eropa sekarang kelimpungan karena kehilangan pemain-pemain Afrika yang harus pulang untuk membela negaranya di Piala Afrika.
Sebaliknya, sepak bola Indonesia malah mencemarkan nama baik bangsa dan negara, di negeri sendiri. Lebih konyol lagi, pemain asing bukan menjadi contoh sportivitas, tetapi sumber premanisme.
Bertambah celaka, karena premanisme yang mencemarkan nama bangsa dan negara itu, juga dibiayai dengan uang rakyat. Yaitu, klub mendapat dana melalui APBD. Ini jelas bentuk kekejian tersendiri, selain kekejian yang terjadi di lapangan sepak bola.
Menilik kekejian itu, menimbang dampaknya kepada citra bangsa dan negara, ada beberapa langkah yang mesti diambil. Pertama, tinjau ulang kebijakan menyewa pemain dan pelatih asing. Segera buang pemain dan pelatih asing yang sebenarnya preman berkostum sepak bola.
Kedua, DPRD mengambil sikap menolak menyetujui membiayai klub sepak bola yang tidak sportif melalui APBD. Lebih baik anggarannya digunakan langsung untuk kemaslahatan rakyat.
Ketiga, sampai kapan PSSI dipimpin Ketua Umum dari penjara? Mesti ada keberanian menggantinya. Mesti ada kerelaan diganti. Demi kepentingan yang lebih besar.
Membiarkan PSSI dipimpin dari penjara, adalah juga kekejian moral tersendiri. Keji terhadap sang pemimpin, juga keji terhadap rakyat yang merindukan sepak bola yang sportif dan bermutu.
Jan
04

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.